Monday, May 16, 2016

pediculosis

ENTOMOLOGI MEDIS
Dosen: Inayah hayati.S,si.M.Pd
Di
S
U
S
U
N
OLEH
KELOMPOK 3
1.        Anas kanedi
2.        Rahmatul aina
3.        Tri sakti
4.        Yesi angrilia
5.        Dwi levina
6.        Jely fernanda
Akademi Analis Kesehatan Harapan Bangsa Bengkulu
Tahun ajaran 2016/2017

KATA PENGANTAR
Segala puji syukur saya panjatkan kepada kehadirat Tuhan Yang Maha Esa yang telah melimpahkan rahmat kepada Kami, sehingga Kami dapat menyelesaikan makalah “pentitera widal” ini sebagai tugas terstruktur dari ibu Inayah hayati.S,si.M.Pd Semoga makalah yang kami buat dapat bermanfaat bagi para pembaca.

Walaupun telah berusaha semaksimal mungkin, Kami merasa bahwa makalah ini masih jauh dari sempurna. Oleh karena itu,Kami sangat mengharapkan masukan berupa kritik dan saran yang membangun demi kesempurnaan makalah ini. Untuk itu saya menyampaikan banyak terima kasih.




Bengkulu 01 Maret  2016

















i
DAFTAR ISI
KATA PENGANTAR.......................................................................................................  i
DAFTAR ISI........................................................................................................................ ii
BAB I  PENDAHULUAN................................................................................................ 1
A.Latar Belakang................................................................................................................ 1
B.Tujuan Penulisan.............................................................................................................. 1
BAB II Pembahasan.......................................................................................................... 2
A.Pengertian........................................................................................................................ 2
B. Klasifikasi....................................................................................................................... 2
1.       Pediculosis humanus  Kapitis...................................................................................... 2
2.       Pedikulosis humanus Korporis................................................................................... 6
3.      Pedikulosis humanus pubis......................................................................................... 7
BAB III Penutup.................................................................................... 8
A.kesimpulan.......................................................................................... 8
B.Saran................................................................................................................................ 8
DAFTAR PUSTAKA....................................................................................................... 9














ii


BAB I
                                                PENDAHULUAN
A.Latar Belakang
Perjuangan manusia melawan gangguan serangga(Arthropoda pengganggu) sudah dimulai semenjak ia tercipta di muka bumi ini. Sebagian serangga menyerang manusia dan hewan ternak baik secara langsung dengan menghisap darahnya, maupun tidak langsung sebagai penular berbagai jenis penyakit atau sebagai pengganggu dengan caranya “nimbrung”/ menempel pada inangnya sehingga menimbulkan gangguan fisik pada inangnya. Beberapa jenis serangga diantaranya yaitu lalat, nyamuk, kutu, pinjal, caplak, tungau dan lain-lain.
Kutu termasuk dari ordo phithiraptera, yang ditandai dengan tubuh yang pipih dorsoventral, tidak bersayap dan bagian tubuh terdiri dari kepala, toraks dan abdomen. Ordo Phithiraptera mempunyai empat sub ordo yaitu subordo Amblycera dan subordo ischnocera yang merupakan kelompok kutu penggigit (tidak menghisap darah) dan umumnya ditemui pada hewan. Selain itu subordo Rhynchophthirina dan subordo Anoplura merupakan kutu penggigit sekaligus penghisap darah. Dari keempat subordo itu Anoplura merupakan subordo yang mempunyai peranan yang penting dan berpengaruh bagi kesehatan dengan spesiesnya antara lain Pediculus humanus capitis (kutu kepala), pediculus humanus corporis (kutu badan),phthirus humanus pubis (kutu kemaluan).
Pedikulosis ialah infeksi kulit atau rambut padamanusia yang disebabkan oleh pedikulus (termasuk family pediculidae), selain menyerang manusia, penyakit ini juga menyerang binatang, oleh karena itu dibedakan pediculus humanus dengan pediculus animalis. Pediculus ini merupakan parasit obligat artinya harus menghisap darah manusia untuk dapat mempertahankan hidup.

B.Tujuan Penulisan
Tujuan penulisan dari makalah ini ialah sebagai berikut:
a.       Untuk mengetahui semua yang berkaaitan dengan Pedukulosis, baik dari klasifikasi, morfologi, siklus hidup,epidemiologi, hospes, penyakit yang disebabkan, gejala penyakit, cara penularan, pencegahan, dan pengobatannya.
b.      Untuk meningkatkan pengetahuan kami, baik dari cara penulisan Karya Ilmiah, juga dari isi yang terkandung dari makalah ini.
c.       Untuk dijadikan langkah pengendalian atau pencegahan dari serangan parasit ini.
d.      Untuk memenuhi tugas kuliah Parasitologi















BAB II
Pembahasan

A.Pengertian
·         Infeksi kutu yang mengenai kepala, badan, dan pubis (mengenai daerah-darah yang berambut )
·         Infeksi kulit atau rambut pada manusia yang disebabkan parasit obligat pediculus humanis

B. Klasifikasi
1. Pediculosis humanus  Kapitis
Ø  Klasifikasi Pediculus humanus capitis (Kutu rambut)
Kingdom         : Animalia
Phylum            : Arthropoda
Class               : Insekta
Ordo               : Phthriraptera
Family             : Pediculidae
Genus              : Pediculus
Species            : Pediculus humanus capitis

Ø  Morfologi Pediculus humanus capitis
Kutu rambut jantan berukuran 2mm, alat kelamin berbentuk seperti huruf “V”. Sedangkan kutu rambut betina berukuran 3mm, alat kelamin berbentuk seperti huruf “V” terbalik. Pada ruas abdomen terakhir mempunyai lubang kelamin di tengah bagian dorsal dan 2 tonjolan genital di bagian lateral yang memegang rambut selama melekatkan telur. Jumlah telur yang diletakkan selama hidupnya diperkirakan 140 butir. Telur :Telur berwarna putih mempunyai oper culum 0,6-0,8 mm disebut “nits”. Telur memiliki perekat yang disebut cement.Bentuknya lonjong dan memiliki perekat, sehingga dapat melekat erat pada rambut. Pada stadium nimfa tumbuh dan bertukar kulit (molting) 3 x dalam wlaktu 3-9 hari menjadi nimfa instar satu, dua, tiga dan berubah menjadi kutu dewasa dengan ukuran maksimal 4,5 mm. Kutu jantan maupun betina menghisap darah inang setiap saat sejak stadium nimfa hingga dewasa.

Ø  Siklus Hidup Pediculus humanus capitis
Telur  nimfa Imago (dewasa)
Kutu bereproduksi secara seksual, dengan fertilisasi internal. Umumnya bersifat diesis (ada jantan dan ada betina). Kutu betina akan menghasilkan telur 6-10 per hari.Telur akan menetas menjadi nimfa dalam waktu kurang lebih seminggusesudah dikeluarkan oleh induk kutu rambut. Sesudah mengalami 3 kali pergantian kulit, nimfa akan berubah menjadi kutu rambut dewasa dalam waktu 7-14 hari. Dalam keadaan cukup makanan kutu rambut dewasa dapat hidup 19 hari lamanya.

Ø  Hospes dari (Pediculus Humanus Capitis)
       Kutu rambut ini merupakan ektroparasit bagi manusia. Tempat-tempat yang disukainya adalah rambut bagian belakang kepala, yang paling sering menggigit pada bagian belakang kepala dan kuduk. Gigitannya akan menyebabkan iritasi pada kulit yang disebabkan oleh air liur yang dikeluarkan pada waktu menghisap darah penderita.

     Tiap manusia memiliki kepekaan yang berlainan. Lesi kutan yang ditimbulkan oleh gigitan Pediculus humanus capitismemberikan reaksi yang sangat gatal. Menggaruk besar menambah peradangan dan karena infeksi sekunder oleh bakteri terbentuklah pustel crusta dan proses penanahan. Rasa gatal merupakan gejala pertama dan yang paling penting, tanda bekas garukan merupakan tanda yang khas.

    Kutu rambut kepala hidup berkembang biak pada rambut kepala lebih suka pada rambut yang kotor, lembab, jarang disisir dan dikeramas. Menginfeksi manusia yang tidak menjaga kebersihan rambut kepala.

     Kutu rambut kepala dapat bergerak dengan cepat dan mudah berpindah dari satu hospes ke hospes lain. Mudah ditularkan melalui kontak langsung atau dengan perantara barang-barang yang dipakai bersama-sama. Misalnya sisir, sikat rambut, topi dan lain-lainnya. Sangat banyak ditemukan diantara anak sekolah terutama gadis-gadis yang kurang menjaga kebersihan rambut kepala.

Nama Penyakit yang disebabkan oleh (Pediculus Humanus Capitis)
     Penyakit yang disebabkan oleh Pediculus Humanus Capitisialah penyakit Pedikulosis































a.Definisi
·         Infeksi kulit dan rambut kepala yang disebabkan oleh pediculus humanus var capitis (Ronny P Handoko)
·         Pedikulosis kapitis merupakan infestasi kutu kepala atau tuma yang disebut pediculus humanus capitis pada kulit kepala. (Brunner & Suddarth)
Tuma betina akan meletakkan telurnya (nits) di dekat kulit kepala. Telur ini akan melekat erat pada batang rambut dengan suatu substansi yang liat. Telur ini akan menetas menjadi tuma muda dalam waktu sekitar 10 hari dan mencapai maturitasnya dalam tempo 2 minggu.
b. Etiologi


                  JANTAN.                                                                      BETINA

·         Infeksi kulit ini disebabkan oleh pediculus humanus var capitis.
·         Penyakit ini terutama menyerang anak-anak usia muda dan cepat meluas dalam lingkungan hidup yang padat, misalnya di asrama dan panti asuhan.
·         Kondisi hygiene yang tidak baik, misalnya jarang membersihkan rambut atau rambut yang relative susah dibersihkan (rambut yang sangat panjang pada wanita).

c. Epidemiologi
·         Kutu ini mempunyai 2 mata dan 3 pasang kaki, berwarna abu-abu dan kemerahan jika telah menghisap darah.
·         Terdapat 2 jenis kelamin ialah jantan dan betina, yang betina dengan ukuran panjang 1,2-3, mm dan lebar kurang lebih ½ panjangnya, jantan lebih kecil dan jumlahnya sedikit.
·         Siklus hidupnya melalui stadium telur, larva, nimfa dan dewasa.
·         Telur (nits) diletakkan di sepanjang rambut dan mengikuti tumbuhnya rambut, yang berarti makin keujung terdapat yang lebih matang.

d. Cara penularan
·         Melalui perantara benda:
· Pakaian
· Sisir
· Sikat yang dipakai bersama
· Wig
· Topi
· Perangkat tempat tidur yang terinfeksi


e. Pathogenesis
Kelainan kulit yang timbul disebabkan oleh garukan untuk menghilangkan rasa gatal. Gatal tersebut timbul karenapengaruh liur dan ekskreta dari kutu yang dimasukkan kedalam kulit waktu menghisap darah.

f. Gejala klinis
·         tuma paling sering ditemukan di sepanjang bagian posterior kepala dan di belakang telinga.
·         Telur tuma ini dapat dilihat dengan mata telanjang sebagai benda yang berbentuk oval, mengkilap dan berwarna perak yang sulit dilepas dari rambut.
·          Gigitan serangga ini menyebabkan rasa gatal yang hebat dan garukan yang dilakukan untuk menghiulangkan gatal seringkali menimbulkan infeksi bakteri sekunder seperti impetigo serta furunkulosis.
·         Infestasi tuma lebih sering ditemukan pada anak-anak dan orang yang berambut panjang.
Gejala yang muncul:
·         Rasa gatal, terutama pada daerah oksiput dan temporal serta dapat meluas ke seluruh kepala.
·         Karena garukan, dapat terjadi erosi, ekskioriasi, dan infeksi sekunder (pus, krusta)
·         Bila infeksi sekunder berat, rambut akan bergumpal disebabkan oleh banyaknya pus dan krusta (plikapelonika)dan disertai pembesaran kelenjar getah bening regional (oksiput dan retroaurikular). Pada keadaan tersebut kepala memberikan bau yang busuk.

g. Diagnosis banding
·         Tinea kapitis
·         Pioderma (impetigo krustosa)
·         Dermatitis seboroika
h. Prognosis
Prognosis baik bila hygiene diperhatikan

i. Pengobatan
·         Pengobatan bertujuan memusnahkan semua kutu dan telur serta mengobati infeksi sekunder.
·         Menurut kepustakaan, pengobatan terbaik ialah secara topical dengan malathion 0,5 % atau 1 dalam bentuk losio atau spray
caranya: malam sebelum tidur rambut dicuci dengan sabun kemudian dipakai losio malathion, lalu kepala ditutup dengan kain. Keesokan harinya rambut dicuci lagi dengan sabun lalu disisir dengan sisir yang halus dan rapat (serit. Pengobatan ini dapat diulang lagi seminggu kemudian, jika masih terdapat kutu atau telur. Obat tersebut sulit didapat
·         Di Indonesia obat yang mudah didapat dan cukup efektif adalah krim gama benzene heksaklorida (gameksan=gammexan) 1 %. Cara pemakaiannya adalah: setelah dioleskan lalu didiamkan 12 jam, kemudian dicuci dan disisir dengan serit agar semua kutu dan telur terlepas. Jika masih terdapat telur, seminggu kemudian diulangi dengan cara yang sama.
·         Obat lain adalah zil benzoate 25 %, dipakai dengan cara yang sama.
·         Pada keadaan infeksi sekunder yang berat sebaiknya rambut dicukur, infeksi sekunder dionati dulu dengan antibiotic sistemik dan topical. Dan kemudian disusul dengan pemberian oabat dia atas dalambentuk shampoo. Hygiene merupakan syarat agar tidak terjadi residif.

2. Pedikulosis humanus Korporis
a. Definisi
Infestasi kutu pedikulosis humanus korporis pada badan (Ronny P Handoko)

b. Etiologi
Pediculus humanus var corporis mempunyai jenis kelamin, yakni jantan dan betina, yang betina berukuran panjang 1,2-4,2 mm dan lebar kira-kira setengah panjangnya, sedangkan yang jantan lebih kecil. Siklus hidup dan warna kutu ini sama dengan yang ditremukan pada kepala.

c. Epidemiologi
Penyakit ini biasanya menyerang orang dewasa terutama pada orang dengan hygiene yang buruk, misalnya penggembala,disebabkan mereka jarang mandi atau jarang mengganti dan mencuci pakaian. Maka itu penyakit ini sering disebut penyakit vagabond. Hal ini disebabkan karena kutu tidak melekat pada kulit, tetapi pada serat kapas di sela-sela lipatan pakaian dan hanya transien ke kulit untuk menghisap darah. Penyebaran penyakit ini bersifat kosmopolit, lebih sering pada daerah beriklim dingin karena orang memakai baju tebal serta jarang dicuci
.
d. Cara penularan
·         Melalui pakaian
·         Pada orng yang dadanya berambut terminal kutu ini dapat melekat padarambut tersebut dan dapat ditularkan melalui kontak langsung.
e. Pathogenesis
Kelainan kulit yang timbul disebabkan oleh garukan untuk menghilangkan rasa gatal. Rasa gatal ini diebabkan oleh pengaruh liur dan ekskreta dari kutu pada waktu menghisap darah.


f. Gejala klinis
· Umumnya hanya ditemukan kelainan berupa bekas-bekas garukan pada badan, karena gatal baru berkurang dengan garukan yang lebih intensif.
· Kadang timbul infeksi sekunder dengan pembesaran kelenjar getah bening regional.

g. Diagnose banding
Neurotic excoriation

h. Prognosis
Baik dengan menjaga hygiene

i. Pengobatan
·         Krim gameksan 1 % yang dioleskan tipis di seluruh tubuh dan didiamkan 24 jam, setelah itu penderita disuruh mandi. Jika masih belum sembuh diulangi 4 hari kemudian.
·         Obat lain adalah emulsi benzyl benzoate 25 % dan bubukn malathion 2 %.
·         Pakaian agar direbus atau disetrika, maksudnya untuk membunuh telur atau kutu. Jika terdapat infeksi sekunder diobati dengan antibiotic secara sistemik dan topical.


3. Pedikulosis humanus pubis

a. Definisi
Pediculosis pubis adalah infeksi rambut di daerrah pubis dan di sekitarnya karena phthirus pubis.
Pediculosis pubis dulu dianggap phthirus pubis secara morfologis sama dengan pediculus, maka itu dinamakan pediculus pubis. Ternyata morfologi keduanya berbeda, phthirus pubis lebih kecil dan pipih.

b. Etiologi
Kutu ini juga mempunyai jenis kelamin, yang betina lebih besar daripada yang jantan. Panjang sama dengan lebar 1-2 mm.

c. Epidemiologi
·         Penyakit ini menyerang orang dewasa dan edapat digolongkan dalam penyakit akibat hubungan seksual (P. H. S. )
·         Serta dapat pula menyerang jenggot dan kumis
·         Infeksi ini juga bias terjadi pada anak-anak, yaitu di alis atau bulu mata (misalnya blefaritis) dan pada tepi batas rambut kepala.
d. Cara penularan
Umumnya dengan kontak langsung

e. Gejala klinis
·         Gejala yang terutama adalah gatal di daerah pubis dan sekitarnya. Gatal ini dapat meluas kedaerah abdomen dan dada, di situ dijumpai bercak-bercak yang berwarna abu-abu atau kebiruan yang disebut macula serulae. Kutu ini dapat dilihat dengan mata telanjangn dan susah untuk dilapaskan karena kepalanya dimasukkan ke dalam muara folikel rambut.
·         Black dot yaitu adanya bercak-bercak hitam yang tampak jelas pada celana dalam berwarna putih yang dilihat oleh penderita pada waktu bangun tidur.
Bercak hitamini merupakan krusta berasal dari darah yang sering diinterpretasikan salah sebagai hematuria.
·         Kadang-kadang terjadi infeksi sekunder dengan pembesaran kelenjar getah bening.

f. Diagnosis banding
·         Dermatitis seboroika
·         Dermatomikosis

g. Prognosis
Gejala gatal yang ditimbulkan sama dengan proses pada pedikulosis.

h. Pengobatan
·         Krim gameksan 1 %
·         Emulsi benzyl benzoate 25 % yang dioleskan kemudian didiamkan selama 24 jam. Pengobatan diulangi 4 hari kemudian jika belum sembuh.
·         Sebaiknya rambut kelamin dipotong
·         Pakaian dalam direbus atau disetrika
Mitra seksual juga harus diperiksa jika perlu diobati.

BAB III
Penutup
A.kesimpulan
Pedikulosis ialah infeksi kulit atau rambut padamanusia yang disebabkan oleh pedikulus (termasuk family pediculidae), selain menyerang manusia, penyakit ini juga menyerang binatang, oleh karena itu dibedakan pediculus humanus dengan pediculus animalis. Pediculus ini merupakan parasit obligat artinya harus menghisap darah manusia untuk dapat mempertahankan hidup.

B.Saran
      Sebaiknya kepada para pembaca memahami isi makalah ini, sehingga para pembaca dapat mengerti apa isi makalah ini, tapi tidak hanya mengerti akan isi makalah ini tetapi pembaca juga akan mendapatkan suatu ilmu yang sangat bermanfaat yang nantinya dapat digunakan dalam proses balajar mengajar






























DAFTAR PUSTAKA

Brunner & Suddarth. 2002. Buku Ajar Keperawatan Medikal Bedah. Edisi 8. Jakarta: EGC
Djuanda, Adhi. 1993. Ilmu Penyakit Kulit dan Kelamin. Edisi 3. Jakarta: Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia
Mansjoer, Arif. 2000. Kapita Selekta Kedokteran. Edisi 3, Jilid 3. Jakarta: Media Aesculapius
Anonim, 2004. Teori Parasitologi. Semarang: Akademi Analisis Kesehatan. Universitas
Muhamadiyah Semarang.
Brown, H. W, 1983. Dasar Parasitologi Klinik. Jakarta: PT. Gramedia
Ganda Husada, S, 1992. Parasitologi Kedokteran. Jakarata: Fakultas Kedokteran.
Garcia & Bruener, 1986. Diagnosa Parasitologi Kedokteran. Cetakan 1. Jakarta: EGC.
Prabu, B.D.R, 1990. Penyakit-penyakit Infeksi Umum. Edisi I. Jakarta: Widya Medica.
Soedarto, 1983. Ontemologi Kedokteran. Surabaya: Penerbit Fakultas Kedokteran Universitas Airlangga.



No comments: