MAKALAH
STRUKTUR ASAM
NUKLEAT
DI SUSUN
OLEH :

KELOMPOK 2:
ANAS KANEDI
DEVI PERMATA SARI
DEVI PERMATA SARI
POPPI YULIANA
TAHUN AKADEMIK
2014/2015
AKADEMI ANALIS
KESEHATAN HARAPAN BANGSA BENGKULU
BAB
I
PENDAHULUAN
A . Latar Belakang
Asam nukleat merupakan salah satu makromolekul yang memegang
peranan sangat penting dalam kehidupan organisme karena di dalamnya terdapat
informasi genetik. Mengapa
dinamakan asam nukleat karena keberadaan umumnya didalam inti sel (nukleus). Asam nukleat disebut jugapolinukleotida karena
tersusun dari sejumlah molekul nukleotida sebagai monomernya.
Setiap nukleotida mempunyai struktur yang terdiri atas gugus fosfat, gula pentosa, dan basa nitrogen atau basa nukleotida (basa
N).Asam
nukleat terdiri dari Asam deoksiribonukleat (DNA) dan Asam
ribonukleat (RNA).Asam nukleat ditemukan pada semua sel hidup
serta pada virus.
B. Rumusan
Masalah
1. Mengenai
pengertian asam nukleat ?
2. Struktur
DNA dan RNA serta perbedaannya ?
3. Proses
replikasi DNA ?
4. Sifat-sifat
asam nukleat ?
C. Tujuan
1. Untuk mengetahui dan lebih
memahami mengenai pengertian asam nukleat dan apa saja yang terkandung di
dalamnya
2. Untuk mengetahui struktur DNA dan
RNA yang termasuk ke dalam asam nukleat serta mengetahui perbedaan dari
masing-masing struktur
3. Untuk mengetahui berbagai macam
tipe dari relikasi DNA dan mengetahui proses terjadinya replikasi DNA di dalam
tubuh
4. Mengenal sifat-sifat dari asam
nukleat
BAB II
PEMBAHASAN
Asam nukleat adalah suatu polimer nukleotida yang berperan dalam
penyimpanan serta pemindahan informasi genetik (polinukleotida). Asam nukleat
terdiri dari Asam deoksiribonukleat (DNA) dan Asam
ribonukleat (RNA).
A.
Komponen Penyusun Asam Nukleat
1. Basa Nitrogen Heterosiklik
Basa nitrogen heterosiklik yang merupakan penyusun asam nukleat adalah
turunan Purina dan pirimidina.
a) Purina dan turunannya
Purina
atau purin adalah senyawa heterosiklik majemuk yang mempunyai lingkar
pirimidina dan imidazol yang berimit.Turunan purina yang merupakan penyusun
asam nukleat adalah adenine atau 6-aminopurina dan guanine atau
2-amino-6-oksipurina.
b) Pirimidina dan turun-turunannya
Pirimidina atau
pirimidin termasuk senyawa heterosiklik sederhana lingkar 6, dengan 2 atom
nitrogen sebagai heteroatomnya.Turunan-turunan pirimidina yang meupakan
penyusun asam nukleat adalah sitosin atau 2-oksi-4-aminopirimidina yang
disingkat C, timin atau 2, 4-dioksi-5-metilpirimidina yang disingkat T dan
urasil atau 2, 4-dioksipirimidina yang disingkat U.
2. Pentosa
atau Gula Penyusun
Pentose yang menyusun asam nukleotida adalah ribose dan
2-deoksiribosa.Dalam struktur kimia asam nukleat, kedua pentose tersebut
terdapat dalam bentuk lingkar furanosa.Ribose merupakan penyusun RNA dan
2-deoksiribosa merupakan penyusun DNA.
3. Fosfat
Penyusun
Fosfat penyusun asam nukleat adalah asam fosfat atau asam ortofosfat.
Fosfat ini berupa kristal berbentuk orto-rombik, tak stabil dan melebur pada
suhu 42,350C. Fosfat ini tergolong asam lemah atau sedang dan bervalensi tiga
jenis garam natrium.Garam natrium tersebut dapat terbentuk pada suhu kamar
yaitu, Natrium fosfat Na3PO4, Natrium hidrogen fosfat Na2HPO4, dan Natrium
dihidrogen fosfat NaH2PO4.
B.
Nukleotida dan Nukleosida
Suatu basa yang terikat pada satu gugus gula
disebut nukleosida, sedangkan nukleotida adalah satu nukleosida yang berikatan
dengan gugus fosfat. Di dalam molekul DNA atau RNA, nukleotida berikatan dengan
nukleotida yang lain melalui ikatan fosfodiester.
Basa purin dan pirimidin tidak berikatan secara
kovalen satu sama lain. Oleh karena itu, suatu polinukleotida tersusun atas
kerangka gula-fosfat yang berselang seling dan mempunyai ujung 5’-P dan
3’-OH. Monomer nukleotida dapat berikatan satu sama lain melalui ikatan
fosfodiester antara -OH di atom C nomor 3‘nya dengan gugus fosfat dari
nukleotida berikutnya. Kedua ujung poli- atau oligonukleotida yang dihasilkan
menyisakan gugus fosfat di atom karbon nomor 5' nukleotida pertama dan gugus
hidroksil di atom karbon nomor 3' nukleotida terakhir.
C. DNA
DNA
(deoxyribonucleic acid) atau asam deoksiribosa nukleat (ADN) merupakan tempat
penyimpanan informasi genetik.Pada tahun 1953, Frances Crick dan James Watson
menemukan model molekul DNA sebagai suatu struktur heliks beruntai ganda, atau
yang lebih dikenal dengan heliks ganda Watson-Crick.DNA merupakan makromolekul
polinukleotida yang tersusun atas polimer nukleotida yang berulang-ulang,
tersusun rangkap, membentuk DNA haliks ganda dan berpilin ke kanan.
Setiap nukleotida terdiri dari tiga gugus
molekul, yaitu:
·
Gula 5 karbon (2-deoksiribosa)
·
Basa nitrogen yang terdiri golongan purin
yaitu adenin (Adenin = A) dan guanin (guanini = G), serta golongan pirimidin,
yaitu sitosin (cytosine = C) dan timin (thymine = T)
·
Gugus fosfat
Model tangga berpilin
menggambarkan struktur molekul DNA sebagai dua rantai polinukleotida yang
saling memilin membentuk spiral dengan arah pilinan ke kanan. Fosfat
dan gula pada masing-masing rantai menghadap ke arah luar sumbu pilinan,
sedangkan basa N menghadap ke arah dalam sumbu pilinan dengan susunan yang
sangat khas sebagai pasangan – pasangan basa antara kedua rantai.
Dalam hal
ini, basa A pada satu rantai akan berpasangan dengan basa T pada rantai
lainnya, sedangkan basa G berpasangan dengan basa C. Pasangan-pasangan basa ini
dihubungkan oleh ikatan hidrogen yang lemah (nonkovalen). Basa A dan
T dihubungkan oleh ikatan hidrogen rangkap dua, sedangkan
basa G dan C dihubungkan oleh ikatan hidrogen rangkap tiga. Adanya ikatan
hidrogen tersebut menjadikan kedua rantai polinukleotida terikat satu sama lain
dan saling komplementer. Artinya, begitu sekuens basa pada salah satu
rantai diketahui, maka sekuens pada rantai yang lainnya dapat ditentukan.
Oleh
karena basa bisiklik selalu berpasangan dengan basa monosiklik, maka jarak
antara kedua rantai polinukleotida di sepanjang molekul DNA akan selalu tetap.
Dengan perkataan lain, kedua rantai tersebut sejajar. Akan tetapi, jika rantai
yang satu dibaca dari arah 5’ ke 3’, maka rantai pasangannya dibaca dari arah
3’ ke 5’. Jadi, kedua rantai tersebut sejajar tetapi berlawanan
arah (antiparalel).
Replikasi DNA
Replikasi
adalah peristiwa sintesis DNA.Saat suatu sel membelah secara mitosis, tiap-tiap
sel hasil pembelahan mengandung DNA penuh dan identik seperti induknya.Dengan
demikian, DNA harus secara tepat direplikasi sebelum pembelahan
dimulai.Replikasi DNA dapat terjadi dengan adanya sintesis rantai nukleotida
baru dari rantai nukleotida lama. Proses komplementasi pasangan basa
menghasilkan suatu molekul DNA baru yang sama dengan molekul DNA lama sebagai
cetakan.
Kemungkinan
terjadinya replikasi dapat melalui tiga model, yaitu :
1. Model
pertama adalah model konservatif, yaitu dua rantai DNA lama tetap tidak
berubah, berfungsi sebagai cetakan untuk dua dua rantai DNA baru.
2. Model
kedua disebut model semikonservatif, yaitu dua rantai DNA lama terpisah dan
rantai baru disintesis dengan prinsip komplementasi pada masing-masing rantai
DNA lama tersebut.
3. Model
ketiga adalah model dispersif, yaitu beberapa bagian dari kedua rantai DNA lama
digunakan sebgai cetakan untuk sintesis rantai DNA baru.
Gambaran replikasi yang terjadi terhadap DNA
:
Dari
ketiga model replikasi tersebut, model semikonservatif merupakan model yang
tepat untuk proses replikasi DNA. Replikasi DNA semikonservatif ini berlaku
bagi organisme prokariot maupun eukariot.Perbedaan replikasi antara organisme
prokariot dengan eukariot adalah dalam hal jenis dan jumlah enzim yang
terlibat, serta kecepatan dan kompleksitas replkasi DNA.Pada organisme
eukariot, peristiwa replikasi terjadi sebelum pembelahan mitosis, tepatnya pada
fase sintesis dalam siklus pembelahan sel.
D. RNA
RNA
( ribonucleic acid ) atau asam ribonukleat merupakan makromolekul yang
berfungsi sebagai penyimpan dan penyalur informasi genetik. RNA sebagai
penyimpan informasi genetik misalnya pada materi genetik virus, terutama
golongan retrovirus. RNA sebagai penyalur informasi genetik misalnya pada
proses translasi untuk sintesis protein. RNA juga dapat berfungsi sebagai enzim
( ribozim ) yang dapat mengkalis formasi RNA-nya sendiri atau molekul RNA lain. RNA merupakan rantai tunggal polinukleotida.
Setiap
ribonukleotida terdiri dari tiga gugus molekul, yaitu :
·
5 karbon
·
Basa nitrogen yang terdiri dari golongan
purin (yang sama dengan DNA) dan golongan pirimidin yang berbeda yaitu sitosin
(C) dan Urasil (U)
·
Gugus fosfat
Purin
dan pirimidin yang berkaitan dengan ribosa membentuk suatu molekul yang
dinamakan nukleosida atau ribonukleosida, yang merupakan prekursor dasar untuk
sintesis DNA.Ribonukleosida yang berkaitan dengan gugus fosfat membentuk suatu
nukleotida atau ribonukleotida.RNA merupakan hasil transkripsi dari suatu
fragmen DNA, sehingga RNA merupakan polimer yang jauh lebih pendek dibandingkan
DNA.
Tipe RNA
RNAd atau RNAm
RNAd
merupakan RNA yang urutan basanya komplementer dengan salah satu urutan basa
rantai DNA.RNAd membawa pesan atau kode genetik (kodon) dari kromosom (di dalam
inti sel) ke ribosom (di sitoplasma).Kode genetik RNAd tersebut kemudian
menjadi cetakan utnuk menetukan spesifitas urutan asam amino pada rantai
polipeptida.RNAd berupa rantai tunggal yang relatif panjang.
RNAr
RNAr merupakan komponen struktural yang utama
di dalam ribosom.Setiap subunit ribosom terdiri dari 30 – 46% molekul RNAr dan
70 – 80% protein.
RNAt
RNAt
merupakan RNA yang membawa asam amino satu per satu ke ribosom. Pada salah satu
ujung RNAt terdapat tiga rangkaian basa pendek ( disebut antikodon ). Suatu
asam amino akan melekat pada ujung RNAt yang berseberangan dengan ujung
antikodon. Pelekatan ini merupakan cara berfungsinya RNAt, yaitu membawa asam
amino spesifik yang nantinya berguna dalam sintesis protein yaitu pengurutan
asam amino sesuai urutan kodonnya pada RNAd.
E.
Sifat-Sifat Asam Nukleat
Stabilitas
asam nukleat
Ketika
melihat struktur tangga berpilin molekul DNA atau struktur sekunder RNA,
sepintas akan terlihat bahwa struktur tersebut menjadi stabil karena adanya
ikatan hidrogen. Ikatan hidrogen di antara pasangan-pasangan basa hanya akan
sama kuatnya dengan ikatan hidrogen antara basa dan molekul air apabila DNA
berada dalam bentuk rantai tunggal. Jadi, ikatan hidrogen jelas tidak
berpengaruh terhadap stabilitas struktur asam nukleat, tetapi hanya sekedar
menentukan spesifitas perpasangan basa.
Penentu
stabilitas struktur asam nukleat terletak pada interaksipenempatan (stacking
interactions) antara pasangan-pasangan basa.Permukaan basa yang
bersifat hidrofobik menyebabkan molekul-molekul air dikeluarkan dari sela-sela
perpasangan basa sehingga perpasangan tersebut menjadi kuat.
Pengaruh
asam
Di
dalam asam pekat dan suhu tinggi, misalnya HClO4 dengan suhu
lebih dari 100ºC, asam nukleat akan mengalami hidrolisis sempurna menjadi
komponen-komponennya. Namun, di dalam asam mineral yang lebih encer, hanya
ikatan glikosidik antara gula dan basa purin saja yang putus sehingga asam
nukleat dikatakan bersifat apurinik.
Pengaruh
alkali
Pengaruh
alkali terhadap asam nukleat mengakibatkan terjadinya perubahan status
tautomerik basa. Sebagai contoh, peningkatan pH akan menyebabkan perubahan
struktur guanin dari bentuk keto menjadi bentuk enolat karena molekul tersebut
kehilangan sebuah proton. Selanjutnya, perubahan ini akan menyebabkan
terputusnya sejumlah ikatan hidrogen sehingga pada akhirnya rantai ganda DNA
mengalami denaturasi. Hal yang sama terjadi pula pada RNA. Bahkan pada pH
netral sekalipun, RNA jauh lebih rentan terhadap hidrolisis bila dibadingkan
dengan DNA karena adanya gugus OH pada atom C nomor 2 di dalam gula ribosanya.
Denaturasi
kimia
Sejumlah
bahan kimia diketahui dapat menyebabkan denaturasi asam nukleat pada pH netral.
Contoh yang paling dikenal adalah urea (CO(NH2)2) dan
formamid (COHNH2). Pada konsentrasi yang relatif tinggi,
senyawa-senyawa tersebut dapat merusak ikatan hidrogen.Artinya, stabilitas
struktur sekunder asam nukleat menjadi berkurang dan rantai ganda mengalami
denaturasi.
Viskositas
DNA
kromosom dikatakan mempunyai nisbah aksial yang sangat tinggi karena
diameternya hanya sekitar 2 nm, tetapi panjangnya dapat mencapai beberapa
sentimeter.Dengan demikian, DNA tersebut berbentuk tipis memanjang. Selain itu,
DNA merupakan molekul yang relatif kaku sehingga larutan DNA akan mempunyai
viskositas yang tinggi. Karena sifatnya itulah molekul DNA menjadi sangat
rentan terhadap fragmentasi fisik.Hal ini menimbulkan masalah tersendiri ketika
kita hendak melakukan isolasi DNA yang utuh.
Kerapatan
apung
Analisis
dan pemurnian DNA dapat dilakukan sesuai dengan kerapatan apung (bouyant
density)-nya. Di dalam larutan yang mengandung garam pekat dengan berat
molekul tinggi, misalnya sesium klorid (CsCl) 8M, DNA mempunyai kerapatan yang
sama dengan larutan tersebut, yakni sekitar 1,7 g/cm3. Jika
larutan ini disentrifugasi dengan kecepatan yang sangat tinggi, maka garam CsCl
yang pekat akan bermigrasi ke dasar tabung dengan membentuk gradien
kerapatan. Begitu juga, sampel DNA akan bermigrasi menuju posisi gradien yang
sesuai dengan kerapatannya. Teknik ini dikenal sebagai sentrifugasi
seimbang dalam tingkat kerapatan (equilibrium density gradient
centrifugation) atau sentrifugasi isopiknik.
Oleh
karena dengan teknik sentrifugasi tersebut pelet RNA akan berada di dasar
tabung dan protein akan mengapung, maka DNA dapat dimurnikan baik dari RNA
maupun dari protein. Selain itu, teknik tersebut juga berguna untuk keperluan
analisis DNA karena kerapatan apung DNA (ρ) merupakan fungsi
linier bagi kandungan GC-nya. Dalam hal ini, ρ =
1,66 + 0,098% (G + C).
DAFTAR
PUSTAKA
No comments:
Post a Comment